Home | salfaLifestyle | Bumdes Gumregah Gununggajah,Taman Wisata Bukit Cinta dengan Segala Potensinya
IMG_20190806_214111

Bumdes Gumregah Gununggajah,Taman Wisata Bukit Cinta dengan Segala Potensinya

Klaten (salfamedia) – Bukit Cinta Watu Prahu, wisata alam yang beralamat di Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten ini, perkembangannya memang pantas diacungi jempol. Daerah perbukitan yang dulunya tidak terawat dan kalau musim kemarau terlihat tandus, namun dibawah kendali Bumdes Gumbregah, disulap menjadi wisata alam yang banyak dikunjungi wisatawan bahkan menjadi viral namanya di sosial media..

Taman wisata Bukit Cinta, selain menjadi obyek wisata alam yang sangat indah, daerahnya tenang dan masih asli, juga dengan fasilitas yang disuguhkan sangat tepat untuk foto-foto selfi. Selain itu Bukit Cinta ternyata juga menyuguhkan berbagai potensi makanan olahan asli masyarakat Gununggajah. Dari mulai telur Bakar, cemilan, jamu herbal tradisional, bahkan seni tradisional Gejug Lesung dan Jatilan yang siap dinikmati oleh wisatawan pada waktu-waktu tertenu.

LEGENDA WATU PRAHU

Watuprahu atau Batu Prahu dinamakan seperti ini karena terdapat batu yang mempunyai bentuk mirip dengan perahu terbalik atau mirip dengan Tangkuban Perahu dengan sekala kecil. Lokasi obyek wisata yang mempunyai jarak dari Kota Klaten sekitar 15 KM ini, merupakan potensi spesifik suasana alam pegunungan dan pemandangan alam yang indah serta alami.

Watuprahu mempunyai legenda yang mirip dengan cerita Di Candi Prambanan yang terkenal dengan Legenda Roro Jonggrang. Konon pada jaman dahulu ada cerita rakyat di Gununggajah yaitu Cerita  Roro Denok yang tidak menginginkan pernikahan dengan Joko Tua tidak terjadi, sehingga Roro Denok mempunyai permintaan agar dibuatkan perahu dan mengisinya dengan bermacam-macam perhiasan dan ternak dalam waktu semalam.

Joko Tua yang sakti mandraguna tidak menolak persyaratan tersebut, dengan bantuan Jin permintaan Roro Denok dapat selesai sesuai dengan waktu yang ditentukan. Namun dengan kecerdikan Roro Denok, syarat itu tidak dapat dipenuhi yang membuat Joko Tua murka. Perahu yang hampir selesai di tendangnya, sehingga menelungkup dan disertai sumpahnya bahwa keturunan yang berasal dari daerahnya Roro Denok akan menjadi perawan tua.

PEMBANGUNAN  WISATA WATU PRAHU.

Pada awalnya kondisi kawasan Watu Prahu adalah hutan pepohonan yang banyak ditumbuhui pohon dan rumput liar. Namun karena seringnya dilakukan penelitian pertambangan, ternyata Watu Prahu banyak ditemukan bebatuan alam, dan fosil-fosil batu purba.

Lokasi yang terkesan kumuh, angker dan tidak banyak orang melewati jalur kawasan Watu Prahu menambah semangat Pemerintah Desa Gununggajah untuk menyulap dan merubah mindset masyarakat akan kesan tersebut. Diawali dari pembuatan taman yang dibiayai dari APBD Kabupaten Klaten sebesar 100 juta, bekerjasama dengan mitra konsultan perencanaan akhirnya taman sudah dapat dimanfaatkan, dengan dilengkapi gardu pandang berbentuk daun cinta,sehingga dalam  perkembangannya lokasi ini lebih dikenal dengan nama Taman Bukit Cinta. Pembangunan taman dengan model kerjasama dengan konsultan serta gotong royong masyarakat sekitar untuk membangun Desa Wisata Watu Prahu Gununggajah yang kemudian dikelolaoleh Bumdes Gumbregah Gununggajah.

POTENSI WISATA GUNUNGGAJAH.

Tman Wisata Bukit Cinta selain menyuguhkan wisata alam yang sangat indah dengan dipadu gardu pandang dan arena foto selfi, juga masih banyak potensi wisata yang bisa dinikmati oleh pengunjung atau wisatawan.

  • Jalur track motorcross, di arel Gunung Pendul terdapat jalur untuk komunitas motorcross, jalur treck ini masih terbilang ekstrim dan cukup jauh dan melewati rintangan yang berbatu, hingga track hampir kemiringan 45 derajat.
  • Pencak Silat Pagar Nusa, di Desa Gununggajah juga masih melestarikan olah raga pencak silat Pagar Nusa. Selain untuk olah raga pecak silat yang lahir dari NU ini juga untuk nelatih para pemuda guna mendalami olah kanuragan lewat pencak silat.
  • Nyanting, merupakan kerajinan membatik terutama bati topeng, batik cangkir ukir. Hasil dari canting pada kerajinan dari kayu ini dikirim ke daerah Jogjakarta dan wonosari.
  • Tenun Gununggajah, produk tenun yang dikelola oleh warga ini biasa kita jumpai dengan nama luri atau kain sorjan. Pengrajin tenun di Desa Gununggajah ini masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).
  • Ternak Bebek dan Telur Asap, di Gununggajah ini masyarakat masih banyak yang berternak bebek, bahkan tidak kurang dari 20 ribu telur bisa dihasilkan setiap minggunya. Dikoordinatori oleh Supardi yang juga Direktur BUMDes Gumbregah, dengan cara memasok pakan bebek sampai menampung telur untuk dijual keluar dari desa Gununggajah. Bahkan Supardi membuat inovasi telur bebek dimasak menjadi telur bebek asap. Dari berbagai uji coba, akhirnya sebagian hasil telur dari peternak diolah menjadi telur asap yang sangat lezat dan bisa bertahan sampai 3 bulan lebih.
  • Jamu Tradisional, di Gununggajah juga banyak warga yang masih membudayakan memproduksi jamu tradisional, dengan bahan baku yang ditanam sendiri. Bahkan dalam perkembangannya jamu tradisonal ini juga dibuat jamu dalam kemasan yang siap diseduh untuk diminum.
  • Pisang Tanduk, di desa ini juga ada warga yang mengolah pisang tanduk menjadi pisang goreng dan pisang kripik yang lezat sebagai cemilan.
  • Roti Kacang, roti kacang produksi salah seorang warga yang bernama Giyanto ini memang mempunyai prospek yang sangat bagus. Dengan diberi label Roti Kacang Roso Mantap yang berbahan baku kacang ini, juga dijual ke luar daerah Gununggajah dan mempunyai nilai jual tinggi.
  • Kesenian Jatilan, di Gununggajah juga masih melestarikan seni tradisional peninggalan poro luhur yaitu seni Jatilan, yang indah untuk dimainkan, selain untuk hiburan, Jatilan juga merupakan sarana untuk menghargai peninggalan nenek moyang dan untuk melestarikan peninggalan tersebut.

Comments

Baca Juga

IMG-20221114-WA0001

Produk Aromaterapi dan Cokelat di Bali Dilirik Delegasi G20

Bali – Para delegasi yang hadir di pertemuan The G20 Joint Finance-Health Deputies Meeting (JFHDM) ...