Home | salfaTravel | Yang Terlantar Setelah Viral, Green Canyon Mini Socokangsi, Nasibmu Kini
socokangsi

Yang Terlantar Setelah Viral, Green Canyon Mini Socokangsi, Nasibmu Kini

Klaten (salfamedia) –  Siapa tak kenal Green Canyon Mini Socokangsi? Sebelum diresmikan pada medio 2017, Green Canyon Mini di Dusun Socokulon, Desa Socokangsi, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, itu sudah ramai diserbu para penghobi traveling yang didominasi kalangan milenial dari Solo Raya dan sekitarnya.

Sesuai namanya, obyek wisata yang dikelola warga secara swadaya ini menyuguhkan kemolekan alam layaknya Green Canyon, salah satu destinasi wisata andalan di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Bedanya, tebing batu dan Sungai Gethuk yang diapitnya tidak sebesar di Pangandaran. Kendati demikian, kemegahan dua green canyon tersebut sama-sama menawan.

Di Green Canyon Mini Socokangsi, pengunjung bisa menyaksikan keindahan tebing bertekstur halus nan unik hasil guratan alam yang bergelombang dan mengikuti kontur sungai berkelok. Selain tebing unik tersebut, Green Canyon Mini juga memiliki air terjun kecil dan cekungan alami di aliran Sungai Gethuk yang tidak terlalu dalam untuk sekadar berendam.

Sekitar 300 meter di selatan tebing itu juga terdapat dua obyek bersejarah yang menarik, yaitu Gua Gethuk dan jembatan kuno dari bekas rel lori. “Konon, Gua Gethuk itu pernah menampung seluruh warga desa saat bersembunyi dari gempuran serdadu Belanda. Padahal gua itu sempit dan rendah. Percaya nggak percaya sih,” kata Kepala Dusun II Desa Socokangsi, Priyanto, pada Jumat, 8 Maret 2019.

Adapun jembatan besi tua dari rel lori (kereta kecil pengangkut barang dan hasil pertanian) yang melintang di atas Sungai Gethuk itu merupakan bukti bahwa di Socokangsi pernah berdiri satu pabrik kopi. Namun, pabrik peninggalan masa kolonial Belanda itu sudah tidak berbekas, tinggal menyisakan satu cerobong asap yang menjulang di antara rimbun pepohonan di barat Green Canyon Mini.

Menurut Sekretaris Desa Socokangsi Prihandono, tenarnya Green Canyon Mini bermula saat seorang warga yang memancing di Sungai Gethuk mengunggah foto hasil jepretannya di media sosial. “Foto Sungai Gethuk dan tebingnya yang berkelok-kelok itu sontak menyita perhatian warganet. Sejak itu banyak warga dari luar desa yang berkunjung dan berfoto sehingga Socokangsi menjadi viral,” kata Prihandono.

Pada 2017, kawasan Sungai Gethuk mulai digarap menjadi obyek wisata baru yang diberi nama Green Canyon Mini Socokangsi. Guna mempercantik kawasan wisata alternatif tersebut, Pemerintah Desa Socokangsi menggelontorkan dana dari APBDes sekitar Rp 90 juta untuk pembangunan kolam renang dan beberapa fasilitas penunjang lain. Kawasan Gua Gethuk yang berada di wilayah Dusun Socowetan pun tak luput dari sentuhan pembangunan berupa taman berundak.

Demi mempromosikan Green Canyon Mini Socokangsi, pengunjung tidak dipungut tiket masuk. “Cukup bayar parkir saja, Rp 2.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk mobil,” kata Prihandono. Sayangnya kejayaan Green Canyon Mini tidak bertahan lama meski warganet telah menyumbangkan banyak karya visual yang mempromosikan kemolekan destinasi wisata alternatif itu secara cuma-cuma.

Gulung tikarnya Green Canyon Mini Socokangsi bukan lantaran ditinggalkan pengunjungnya, tapi karena kekurangan sumber daya pengelolanya. “Pemuda di sini banyak yang merantau, bekerja dan tinggal di luar desa,” kata Suprandono. Walhasil, berbagai fasilitas yang telah dibangun seperti kolam renang, toilet, gazebo, warung-warung, dan beberapa properti untuk berswafoto kini terbengkalai.

Sungai Gethuk yang dulu bersih kini tampak kumuh karena sampah yang terbawa arus dan menyangkut pada bebatuannya. Kondisi tersebut kian diperparah oleh ambrolnya sebagian tebing yang menjadi akses utama menuju zona inti Green Canyon Mini setelah diguyur hujan deras beberapa bulan lalu. “Hampir satu tahun ini sepi pengunjung karena nggak ada yang mengurus,” kata Sisri, satu-satunya pedagang yang masih bertahan membuka warung di depan gardu masuk Green Canyon Mini.

Apakah pemerintah desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berencana mengambil alih pengelolaan Green Canyon Mini agar kembali bangkit dan dapat memberikan manfaat bagi warga, Suprandono mengatakan kemungkinan itu ada. “Tapi ya itu, masalahnya kami kekurangan SDM terutama dari kalangan muda,” kata Suprandono.(DINDA LEO LISTY)

 

Comments

Baca Juga

joko ponggok

GLC 19 Desa Ponggok , Menuju Ponggok Lestari 2025

Klaten (salfamedia) – Kita memang harus beralih ke wisata ramah lingkungan, tetapi sebelum itu kita ...