Home | salfaTravel | Gunung Sewu Unesco Global Geopark, Menyapa Dunia
sewu

Gunung Sewu Unesco Global Geopark, Menyapa Dunia

Jawa Timur (salfamedia) – Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng besar yang saling bertumbukan dan dalam kurun waktu ratusan juta tahun telah terjadi proses geologi yang dinamis dan kompleks membentuk geodiversity, mulai dari Sabang sampai Merouke sebagai fenomena geologi yang berpeluang dikembangkan menjadi geoheritage atau wisata alternatif sejalan dengan kaidah wisata geologi yang disebut geowisata atau lebih jauh lagi dikenal dengan istilah ‘geopark’ yang didukung oleh tiga unsur yaitu, geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity.

jhGeoheritage adalah warisan geologi yang terbentuk secara alami dan memiliki nilai sangat tinggi dan luar biasa karena merepresentasikan rangkaian rekaman proses geologi yang saling berhubungan, sehigga secara keilmuan merupakan bagian penting dari sejarah dinamika bumi. Sedangkan pengertian geopark lebih luas lagi karena merupakan konsep pengembangan kawasan dimana beberapa potensi geoheritage yang terletak berdekatan di wilayah yang telah dibangun, dikelola dengan cara mengintegrasikan prinsip-prinsip konservasi dan rencana tata ruang eksisting dari pemerintah (Ibrahim komoo, 1993).

budi-1Peluang Indonesia untuk mengembangkan geopark sangat besar karena memiliki geodiversity yang melimpah dan tersebar luas di seluruh pulau sehingga, melalui unsur Cultural diversity masyarakat mendapat kesempatan yang luas untuk ikut mengembangkan pariwisata secara professional dalam bentuk usaha ekonomi pariwisata kreatif (transportasi, penginapan, restoran, cinderamata, kesenian, guide, porter, dll) yang secara langsung dapat menunjang pengembangan geopark berkelanjutan.

GEOLOGI DI KAWASAN GUNUNG SEWU

Daerah Gunung Sewu merupakan kawasan karst Tropik yang cantik dan terluas di Asia tenggara. Daerah ini secara administrasi termasuk wilayah Kabupaten Gunungkidul (Daerah Istimewa Yogyakarta), Kabupaten Pacitan (Jawa Timur), dan Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah). Secara geografik berada di 6o 10‟ to 6o 30‟ LS dan 99o 35‟ to 100o BT, lebih-kurang 25 km Tenggara Yogyakarta, sekitar 109 km NNW dari Pacitan, dan hanya 20km SW dari Wonogiri. Luas kawasan Gunungsewu lebih-kurang 800 km2, sangat mudah diakses dariYogyakarta-Wonosari, Wonogiri dan Pacitan.Geologi Daerah Gunung Sewu merupakan hasil dari proses-proses deposisi dan tektonik, serta proses permukaan, menghasilkan hamparan batuan karbonat dengan variasi bentuk bentang alam, berbagai fosil, struktur deformasi, dan keunikan hidrogeologi.

hhhBatuan dasar kawasan ini adalah batuan vulkanik Formasi Semilir dan Formasi Nglanggran yang berumur Tersier Awal. Di bagian Utara batuan dasar ini ditutupi oleh napal dan batupasir tufaan Formasi Sambipitu dan batupasir tufaan dan kalkarenit Formasi Oyo. Di atas Formasi Sambipitu dan Formasi Oyo terdapat Formasi Wonosari, dan Formasi Kepek. Di Daerah Gunung Sewu batuan termuda adalah endapan Kuarter alluvial dan endapan vulkanik Gunung Merapi. Proses-proses alam yang kompleks telah mewariskan banyaknya situs geologi di daerah ini. Kehadiran berbagai situs warisan geologi ini telah  mendukung promosi Gunung Sewu sebagai anggota UNESCO Global Geopark.( Sari Bahagiarti Kusumayudha, Jatmika Setiawan, 2013)

Bentukan khas “conical hills” yaitu bentukan deretan bukit-bukit kecil yang jumlahnya ribuan  diperkirakan 40.000 bukit, sehingga disebut dengan pegunungan seribu (Gunung Sewu). Luasan endapan gampingnya mencapai 1300 km2 dan ketebalan limestone (Wonosari Beds) mencapai lebih 200 meter. Panjang karst dari barat-timur mencapai 85 km sedangkan lebar utara selatan bervariasi dari 10-15 km.

Karena ciri khas morfologinya menjadikan Gunung Sewu terpilih sebagai salah satu Geopark atau Taman Bumi di Indonesia dan telah mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari Global Geopark Network, pada tanggal 19 September 2015 di Totorii-Jepang.

Subzona Gunung Sewu merupakan perbukitan dengan bentang alam kars, yaitu bentang alam dengan bukit-bukit batu gamping membentuk banyak kerucut (Conical Hills) dengan ketinggian beberapa puluh meter. Di antara bukit-bukit ini dijumpai telaga, luweng (sink holes) dan di bawah permukaan terdapat gua batu gamping serta aliran sungai bawah tanah. Bentang alam kars ini membentang dari pantai Parangtritis di bagian barat hingga Pacitan di sebelah timur. Zona Pegunungan Selatan di Jawa Timur pada umumnya merupakan blok yang terangkat dan miring ke arah selatan. Batas utaranya ditandai escarpment yang cukup kompleks. Lebar maksimum Pegunungan Selatan ini 55 km di sebelah selatan Surakarta, sedangkan sebelah selatan Blitar hanya 25 km. Diantara Parangtritis dan Pacitan merupakan tipe kars yang disebut Pegunungan Seribu atau Gunung Sewu, dengan luas kurang lebih 1400 km2 . Sedangkan antara Pacitan dan Popoh selain tersusun oleh batu gamping (limestone) juga tersusun oleh batuan hasil aktifitas vulkanis berkomposisi asam-basa antara lain granit, andesit dan dasit .

Global Geopark adalah penghargaan dan penetapan yang diberikan oleh badan PBB UNESCO terhadap kawasan atau bentang alam di dunia yang memiliki keunikan dan keistimewaan baik dari segi geologi maupun sosial budaya. Pada perkembangannya program yang mulai digagas pada tahun 1999 ini memiliki pesan membangun keselarasan antara pembangunan yang berkelanjutan, konservasi dan pemberdayaan komunitas masyarakat.

Gunung Sewu adalah kawasan yang mungkin keunikannya belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Padahal Gunung Sewu secara internasional kerap dibandingkan dengan kawasan karst Libo dan Shilin yang merupakan Geopark UNESCO di China.

Menurut Hanang Samodra,2013. Orang boleh tidak percaya jika batuan, fosil, sesar (patahan), lipatan, dan bentangalam dapat diajak berbicara.Tetapi melalui pengetahuan geologi, seorang ahli geologi dapat mengajaknya berbincang. Unsur-unsur geologipun akan menuturkan sejarahnya, sebagai bagian dari cerita panjang pembentukan bumi yang dimulai sekitar 4,5 milyar tahun lalu. Melalui Geopark, orang diajak menelusuri lorong waktu geologi yang periodenya tidak hanya mencakup masa ratusan tahun tetapi hingga jutaan tahun. Geopark tidak hanya menyajikan alam yang termonumenkan secara geologi, tetapi juga kehidupan yang ada di dalamnya yaitu manusia, hewan dan tumbuhan.

Pengertian Geopark

Pengertian Geopark dapat dipahami melalui arti, fungsi dan implementasinya sebagai komponen yang berkaitan dengan alam dan kehidupan di bumi. Oleh sebab itu konsep Geopark memiliki tiga pengertian dasar, yaitu:

  1. Merupakan kawasan yang memiliki makna sebagai suatu warisan geologi (sehingga perlu dilestarikan), sekaligus sebagai tempat mengaplikasikan strategi pengembangan ekonomi berkelanjutan yang dilakukan melalui struktur menejemen yang baik dan realistis.
  2. Geopark berimplementasi memberi peluang bagi penciptaan lapangan pekerjaan untuk masyarakat setempat dalam hal memperoleh keuntungan ekonomi secara nyata (biasanya melalui kegiatan pariwisata berkelanjutan).
  3. Di dalam kerangka Geopark, objek warisan geologi dan pengetahuan geologi berbagi dengan masyarakat umum. Unsur geologi dan bentangalam yang ada berhubungan dengan aspek lingkungan alam dan budaya.

Geopark juga dapat dipahami melalui beberapa aspek diantaranya sebagai :

  1. suatu kawasan

Geopark merupakan sebuah kawasan yang berisi aneka jenis unsur geologi yang memiliki makna dan fungsi sebagai warisan alam. Di kawasan ini dapat diimplementasikan berbagai strategi pengembangan wilayah secara berkelanjutan, yang promosinya harus didukung oleh program pemerintah.Sebagai kawasan, Geopark harus memiliki batas yang tegas dan nyata.Luas permukaan Geopark-pun harus cukup, dalam artian dapat mendukung penerapan kegiatan rencana aksi pengembangannya.

  1. Sarana pengenalan warisan bumi

Geopark mengandung sejumlah situs geologi (geosite) yang memiliki makna dari sisi ilmu pengetahuan, kelangkaan, keindahan (estetika), dan pendidikan. Kegiatan di dalam Geopark tidak terbatas pada aspek geologi saja, tetapi juga aspek lain seperti arkeologi, ekologi, sejarah, dan budaya.

  1. Kawasan lindung warisan bumi

Situs geologi penyusun Geopark adalah bagian dari warisan bumi.Berdasarkan arti, fungsi dan peluang pemanfaatannya, keberadaan dan kelestarian situs-situs itu perlu dijaga dan dilindungi.

  1. Tempat pengembangan geowisata

Objek-objek warisan bumi di dalam Geopark berpeluang menciptakan nilai ekonomi.Pengembangan ekonomi lokal melalui kegiatan pariwisata berbasis alam (geologi) atau geowisata merupakan salah satu pilihan.Penyelenggaraan kegiatan pariwisata Geopark secara berkelanjutan dimaknai sebagai kegiatan dan upaya penyeimbangan antara pembangunan ekonomi dengan usaha konservasi.

  1. Sarana kerjasama yang efektif dan efisien dengan masyarakat lokal

Pengembangan Geopark di suatu daerah akan berdampak langsung kepada manusia yang tinggal di dalam dan di sekitar kawasan. Konsep Geopark memperbolehkan masyarakat untuk tetap tinggal di dalam kawasan, yaitu dalam rangka menghubungkan kembali nilai-nilai warisan bumi kepada mereka.Masyarakat dapat berpartisipasi aktif di dalam revitalisasi kawasan secara keseluruhan.

  1. Tempat implementasi aneka ilmu pengetahuan dan teknologi

Di dalam kegiatan melindungi objek-objek warisan alam dari kerusakan atau penurunan mutu lingkungan, kawasan Geopark menjadi tempat uji coba metoda perlindungan yang diberlakukan.Selain itu, kawasan Geopark juga terbuka sepenuhnya untuk berbagai kegiatan kajian dan penelitian aneka ilmu pengetahuan dan teknologi tepat-guna.

PERANANAN GEOPARK

Geopark merupakan daerah lindung berdasarkan makna khusus geologi, kelangkaan dan keindahan. Fenomena itu mewakili sejarah, kejadian, dan proses bumi. Seperti Taman Nasional, Geopark-pun berada di bawah pengelolaan pemerintah di mana situs itu berada.

Selain membuka peluang untuk penelitian dan pendidikan, Geopark berpotensi besar dapat mengembangkan ekonomi setempat. Keadaan itu akan menciptakan lapangan kerja dan penumbuhan ekonomi baru. Geopark dapat dikembangkan menjadi objek dan daya-tarik wisata (geotourism), selain menjadi tempat kegiatan perdagangan dan pembuatan barang kerajinan (geoproducts) seperti cetakan fosil dan cinderamata

PERJALANAN GEOPARK GUNUNG SEWU

Kronologis

Sebelumnya tahun 2009 bernama Geopark Pacitan,Diusulkan menjadi Geopark Global pada tahun 2010 dan ditolak oleh UNESCO. Berganti nama “GeoparkGunungSewu” dan ditetapkan menjadi Geopark Nasionalpada 13 Mei 2013 oleh Komite Nasional Geopark Indonesia (ad hoc)

Dan September 2013 diusulkan menjadi Geopark Global. Diusulkan menjadi Geopark Global pada September 2013,dan dinilai pada Juli 2014 dengan hasil penilaian ditunda, harus dilengkapi 9 (Sembilan) butir rekomendasi GGN-    UNESCO hingga 2016  (SAINT JHON-CANADA- SEPT 2014).Tindak-lanjut rekomendasi disepakati untuk diselesaikan pada 31 Agustus 2015, kemudian ditetapkan menjadi Geopark Global yang didukung oleh    UNESCO pada 19 September 2015 di Tottori, Jepang.

Geopark Gunung Sewu memiliki luas hingga mencapai 1.802 km persegi yang terbagi menjadi tiga geoarea, yaitu Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan. Dengan tiga kawasan tersebut, geopark Gunung Sewu menjadi destinasi wisata yang lengkap, mulai dari pantai dan gua di kawasan Gunungkidul, beragam gua di Pacitan, hingga industri kreatif masyarakatnya. Kawasan Gunung Sewu juga menjadi daerah penelitian berbagai aspek ilmu pengetahuan (geologi,air tanah, biologi, arkeologi, sejarah alam, budaya dan sebagainya).

Wilayah seluas 1.802 km2dibagimenjadi 3 GeoArea    (Gunungkidul, Wonogiri, Pacan), Terdiridari 33 situswarisanalam (30 situsgeologi, 3 situs non-geologi) ,GeoAreaGunungkidulmemiliki13 situs, Wonogirimemiliki7 situs, Pacitanmemiliki13 situs.

Pada 19 September 2015, Gunung Sewu yang berada di tiga provinsi (Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur) itu dinobatkan sebagai anggota Global Geoparks Networks kedua dari Indonesia, setelah Geopark Gunung Batur pada 2012 pada “The 4th Asia-Pacific Geoparks Network (APGN), San’in Kaigan Symposium”, Tottori-Jepang.

Rincian Geosite di masing-masing  adalah sebagai berikut :

Kawasan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark  merupakan kawasan karst paling istimewa di Jawa yang mencapai luasan 1.300 km2 dan terdiri dari 40.000 bukit karst. Kawasan ini telah dinobatkan menjadi anggota Global Geopark Network pada tanggal 19 September 2015 pada  simposium yang diadakan di Jepang. Penobatan ini menjadi peluang serta tantangan dalam mengembangkan aspek pariwisata yang berkarakter, edukatif, dan nyaman. (Utomo, 2015) . Geopark merupakan sebuah konsep baru yang dicetuskan oleh UNESCO pada awal tahun 2000-an yang kemudian pada tahun 2004 ditindaklanjuti dengan didirikannya Global Geopark Network (GGN). Menurut UNESCO, Geopark adalah sebuah kawasan dengan fenomena-fenomena geologi mengagumkan, tidak hanya geologi, akan tetapi juga meliputi arkeologi, ekologi, dan budaya. Geopark merupakan konsep untuk menyejahterakan masyarakat lokal berbasis konservasi warisan geologi (geoheritage). Dalam Geopark setidaknya harus terkandung 3 unsur penting yaitu: Education, Economic, & Conservation. Berdasarkan hal diatas Gunung Sewu memiliki semua potensi untuk dijadikan kawasan Geopark berkelas dunia.

Global Geopark Network (GGN) merupakan suatu situs warisan dunia. Dengan ditetapkannya Geopark Gunung Sewu sebagai GGN maka akan membeikan dampak terhadap lokasi dimana GGN tersebut berada, khususnya Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Pacitan.

Setelah ditetapkannya Gunung Sewu menjadi Gunung Sewu UNESCO Global Geopark, seluruh jajaran yang terlibat di dalam pengelolaan Geopark Gunung Sewu, berkomitmen untuk melakukan upaya-upaya mengembangkan kawasan Gunung Sewu menjadi kawasan Geopark dalam arti sebenarnya. Konsep Geopark ini diyakini dapat meningkatkan kegiatan perekonomian di tiga kawasan Gunung Sewu.

Sebenarnya, menurut UNESCO bahwa geopark tidak hanya bicara tentang geoheritage sites yang harus dilindungi, tetapi juga menyimpan sebuah konsep bagaimana masyarakat lokal merawat, melestarikan dan menerima manfaat ekonomi yang membawa mereka kearah perbaikan kesejahteraannya dan mampu mengembangkan kreativitas dan inovasi untuk mengembangkan produk industri pariwisata yang berkelanjutan, yaitu geowisata.

Dilihat dari sudut pengembangan wisata, Status Geopark bagi Gunung Sewu berdampak signifikan mengangkat citra dan popularitas kawasan Gunung Sewu sebagai destinasi wisata. Semua geosite di Kawasan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark diserahkan sepenuhnya untuk di kelola oleh masyarakat sekitar Geosite. Pengembangan kawasan Geopark Gunung Sewu  sebagai objek wisata berbasis masyarakat lokal merupakan salah satu usaha dilakukan berbasis masyarakat lokal dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku kegiatan pariwisata. Pengembangan kawasan Geopark Gunung Sewu sebagai objek wisata berbasis masyarakat lokal dapat berjalan jika dengan dukungan penuh oleh pemerintah daerah yang berperan sebagai pembuat kebijakan.

Status Geopark bagi Gunung Sewu tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di wilayah kawasan Geopark Gunung Sewu. Pada tahun 2012 jumlah wisatawan yang berkunjung di kawasan Gunung sewu sebanyak 2.011.359 orang dan pada tahun 2017 jumlah kunjungan wisatawan sebanyak 5.589.925 orang dengan menyumbang pendapatan asli daerah sebesar Rp.8.808.327.620,-.pada tahun 2012 dan meningkat tajam di tahun 2017 dengan sumbangan Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp. 41.513.812.733,- (Penulis: Budi Martono, General Manager Gunung Sewu UNESCO Global Geopark, Ketua Jaringan Geopark Indonesia & Hanang Samodra Advisory Committee Global Geopark Network)

Comments

Baca Juga

6

River Tubing Pusur Adventure, Asyik – Syeru & Mendebarkan

Klaten (salfamedia) – Kabupaten Klaten merupakan salah satu daerah yang kaya akan sumber mata airnya. ...