Home | salfaTravel | Desa Solodiran Menyimpan banyak Misteri
Manisrenggo

Desa Solodiran Menyimpan banyak Misteri

Solodiran salah satu desa yang menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten adalah salah satu desa yang menjadi markas gerakan para pejuang Republik Indonesia pada masa perang Diponegoro.

Mengenang sejarah Desa Solodiran kita akan ingat salah satu peninggalan Pangeran Diponegoro yaitu Sumur Tiban. Sumur yang keberadaannya sapai saat ini masih diabadikan bahkan sebagian masyarakat mensakralkan sebagai sumur yang bertuah.

Sebelum tahun 1917 ada dua Kademangan Tlebukan, dipimpin oleh Demang Wong Dimejo dan Kademangan Krogolan yang dipimpin oleh Demang Parto Rejo. Kedua kademangan ini termasuk wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berdasarkan kesaksian masyarakat yang saat ini masih hidup di dua Kademangan itu banyak dijumpai peninggalan-peninggalan benda atau prasasti yang dilindungi oleh Cagar Budaya.

Peninggalan tersebut antara lain batu-batu candi peninggalan Prabu Warak (Rekian Warak), Masjid Tiban di dukuh Kwarakan, beberap Sumber Mata Air (Tuk) yang sumber airnya saling berhubungan, Sumur Tiban, Makam putera Pangeran Diponegoro yang bernama Zakaria 3, Zakaria 4 dan Zakaria 5, Makam Pangeran Cucuk Joko Makutho atau Pangeran Pucung yang sampai sekarang masih dikunjungi untuk tirakat atau media permohonan doa.

“ Dari beberapa peninggalan zaman perang Diponegoro yang menjadi tonggak sejarah Desa Solodiran adala Sumur Tiban. Yaitu sebuah sumur yang berada di antara dua Kademangan dan merupakan sumur untuk penapakan kuda/napakke/topo sehingga kuda akan menjadi sakti,” ungkap Kades Solodiran Aryanta Sigit Suwanto, SE.

Pada tahun 1971 kata Mbah Wanto berdasarkan Reyks Blood Nomer 9-1971 dari kasunanan Surakarta Hadiningrat (istilah sekarang Undang-undang) Dua Kademangan Krogonalan dan Kademangan Tlebukan dijadikan satu yaitu Pemerintahan Desa. Berdasarkan peninggalan sejarah yang paling sakral pada saat itu adalah sumur tiban yang sering untuk menapakan kuda, karena kedua kademangan termasuk Kasunanan Surakarta maka pemerintah Desa diberi nama Ds. Solodiran.

SOLO berarti masuk wilayah (Kewilayahan), DI berarti Linuwih (Sakti), RAN berarti Jaran (Kuda) hal tersebut dikuatkan dengan Reyks Blood No 4-1918 dari kasunanan Surakarta Hadiningrat (Istilah sekarang aturan pelaksanaan) yang sebagai Lurah Desa Solodiran adalah Wongso Dimejo dari demang Tlebukan.

Comments

Baca Juga

xx

Transformasi Digital Upaya Mewujudkan Pelayanan Modern, Profesional, dan Terpercaya Kantor Pertanahan Kabupaten Sragen

Sragen (salfamdia) – Kemajuan pengetahuan akan  teknologi sudah menjadi hal wajar, terlebih di era industri ...