Home | salfaNews | Cegah Impor Beras, Endang DPR-RI Siap Perjuangkan Kebutuhan Petani di Soloraya
IMG-20190321-WA0018

Cegah Impor Beras, Endang DPR-RI Siap Perjuangkan Kebutuhan Petani di Soloraya

Klaten (salfamedia.com) — Memasuki masa panen padi di wilayah desa Balak kecamatan Cawas Anggota DPR RI Endang Srikarti Handayani mendorong petani agar tidak menjual padi ke tengkulak atau istilahnya ditebaskan yang keuntungan sedikit. Hal itu dikatakan legislator fraksi Golkar saat menghadiri panen Raya Padi varietas IR64 milik Badan Usaha Milik (BUM) Desa Balak Kawentar pada Kamis siang (21/3/2019).

Caleg DPR-RI Dapil V Jateng Solo Klaten Boyolali dan Sukoharjo itu mendorong petani agar dapat mengembangkan produk pertanian dengan mengolah sehingga mendapatkan keuntungan yang luar biasa.

“Kita benahi seluruh infrastruktur pertanian di kecamatan Cawas yang beberapa waktu lalu diterjang banjir ini agar produk pertanian bisa maksimal. Intinya dengan produksi meningkat, terjadi surplus dan akhirnya tidak lagi ada impor beras masuk Klaten dan Soloraya, Saya¬†berada di garda kldepan untuk menolak impor beras dan jagung masuk daerah saya ini,”ucapnya.

Dirinya juga mendorong pemuda agar tertarik dengan pertanian. Saat ini, anak-anak muda sangat kurang minat di bidang pertanian. Maka, ketika suatu saat pergi ke sawah-sawah sebagian besar yang dijumpai adalah ibu-ibu dan kaum Adam yang berusia di atas 40/50 tahun. “Hidup di desa dengan menekuni dunia pertanian ini sebetulnya sangat menjanjikan, ayo jangan mudah melakukan urbanisasi. Hidup didesa itu biaya murah,”ucapnya.

Sementara itu direktur Jasindo Surakarta, Johan Nur juga menganjurkan petani agar melakukan asuransi pertanian yang bernama Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). AUTP memberikan perlindungan kepada petani dari ancaman resiko gagal panen sebagai akibat risiko banjir, kekeringan, penyakit dan serangan organisme pengganggu tanaman.

Lebih lanjut dikatakan Johan, ganti rugi diberikan kepada peserta asuransi yang umur padinya sudah melewati 10 hari atau dengan tingkat dan luas kerusakan mencapai lebih dari 75 persen. Besarnya ganti rugi adalah Rp 6 juta per hektar per musim tanam. Jika kurang atau tidak genap kelipatan satu hektar, maka ganti rugi akan dihitung secara proporsional.

“Asuransi pertanian itu besarnya nominal 180 ribu namun petani per patok cukup membayar 36ribu. Nantinya yang 144 ribu ditanggung pemerintah. Untuk keikutsertaan petani dalam asuransi ini lewat Gapoktan lalu menghubungi ke dinas pertanian,”ucap Johan Nur.

Comments

Baca Juga

IMG20190714143337

Nguri-uri Tradisi Leluhur, 14 Team Semarakkan Festival Gejog Lesung Desa Barepan

Klaten (salfamedia.com) —- Sebanyak 14 peserta dalam ajang Festival Gejog Lesung di balai Desa Barepan, ...