Home | salfaTravel | BUMDes Sinergi Sidowayah, Polanharjo, Klaten Bangkitkan Usaha Kolektif
IMG_20190729_112504

BUMDes Sinergi Sidowayah, Polanharjo, Klaten Bangkitkan Usaha Kolektif

Klaten (salfamedia) – Sebagai badan usaha yang mengemban misi sosial, BUMDes Sinergi tidak hanya mengukur kinerjanya dari peningkatan pendapatan per tahun. Tapi juga dari seberapa besar peran BUMDes Sinergi mendorong pemberdayaan masyakarat di desanya, Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Klaten beberapa waktu yang lalu.

“Kalau fungsi sosial BUMDesnya jalan, fungsi komersialnya otomatis akan mengikuti,” kata Komisaris Utama BUMDes Sinergi, Hapsoro, saat ditemui di kawasan wisata Balumbang Siblarak

IMG-20190717-WA0080BUMDes Sinergi didirikan pada 2016. Kala itu Hapsoro masih menjabat sebagai Kepala Desa Sidowayah. Seperti BUMDes pada umumnya, Hapsoro mengatakan, BUMDes Sinergi berangkat dengan semangat mencari pendapatan sebesar-besarnya dari hasil mengelola berbagai potensi di desanya.

Seiring waktu berjalan, BUMDes Sinergi justru lebih banyak memberikan peluang kepada kelompok masyarakat untuk mendirikan dan mengelola usaha bersama, terutama di bidang pariwisata. “Semula kami ingin menjual saham kepada masyarakat, selembarnya Rp 50.000,” kata Hapsoro mengenangkan masa-masa awal berdirinya BUMDes Sinergi.

Namun, sistem investasi dengan saham dinilai kurang menyuburkan rasa gotong-royong  serta rasa memiliki terhadap usaha yang dikelola. “Kami pun batal pakai sistem saham. Sejak itu, tiap kelompok masyarakat berinvestasi dengan nominal yang disepakati untuk membuka usaha bersama,” kata Hapsoro.

Dia mencontohkan, wahana mini tubing (susur sungai dengan menumpang ban dalam mobil) yang tergabung dalam paket wisata Kampung Dolanan Sidowayah dikelola oleh 20 warga. Tiap warga berinvestasi sebesar Rp 450.000. Pada tahun pertama, medio 2017, masing-masing dari 20 warga itu memperoleh sisa hasil usaha (SHU) sebesar Rp 600.000. Pada tahun kedua, medio 2018, SHU yang diterima tiap warga itu mencapai Rp 1.740.000.

DSC00908Keberhasilan mini tubing di Kampung Dolanan Sidowayah pun memicu warga lain memutar otak untuk turut membangun usaha. Pada tahun 2017, 42 kepala keluarga (KK) di Dusun Kayuhan RT 10 mendirikan Omah Aneka Satwa dan Seni (Oasse). Tiap satu KK berinvestasi Rp 500.000. “Karena masih baru, Oasse belum balik modal. Tapi mereka tetap berproses,” kata Hapsoro.

Di Dusun Kauman, RT 7, Hapsoro mengatakan, warganya sedang bahu membahu membuat Kampung Lalu Lintas. Adapun warga di RW 1 kini berencana mendirikan pasar burung sekaligus wahana gantangan (ajang untuk lomba kicau burung).

Sedangkan Di Dusun Gondang, RT 11, sudah ada sekitar 28 KK yang berinvestasi masing-masing Rp 1 juta untuk membeli motor trail dan ATV (kendaraan segala medan beroda empat) yang akan disewakan di Balumbang Siblarak.

sidowayahDi tengah tumbuhnya unit-unit usaha baru yang dikelola kelompok masyarakat itu, BUMDes Sinergi memegang peranan sebagai marketing. “Kalau modal mereka kurang, BUMDes siap membantu. Soal mekanisme sumbangan ke BUMDes itu dipikir nanti. Yang penting usaha-usaha itu jalan dulu dan bisa memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat,” ujar Hapsoro.

Menurut Direktur Utama BUMDes Sinergi, Imron mengaku sejak didirikan pada 2016, BUMDes Sinergi menyumbang pendapatan asli desa (PADes) rata-rata Rp 150 juta per tahun. PADes itu bersumber dari beberapa unit usaha seperti obyek wisata Umbul Kemanten, Kampung Dolanan, air minum kemasan Sinergi, dan lain-lain. “Memang belum sampai miliaran rupiah. Tapi di balik itu, masyarakat yang mengelola unit-unit usaha itu sudah langsung merasakan manfaatnya,” kata Imron. (*)

 

Comments

Baca Juga

ATIT

Atit Novitasari SPd,Diperlukan Inovasi untuk Membangun Wisata Desa Glagahwangi

Klaten (salfamedia) – Keindahan panorama memang syarat mutlak bagi usaha jasa pariwisata alam. Namun, tidak ...