Home | salfaProfile | BPN Klaten – Transformasi Menuju Institusi Layanan Publik yang Kekinian
bpn-klaten-1

BPN Klaten – Transformasi Menuju Institusi Layanan Publik yang Kekinian

Kata “Desa” telah menjadi sebuah komoditas unik,  secara denotatif  menurut sebuah ensiklopedia elektronik,  Desa adalah sebuah aglomerasi permukiman di bawah kecamatan, yang dipimpin oleh Kepala Desa. Pada http://kbbi.web.id/ dijelaskan, bahwa aglomerasi adalah “pengumpulan atau pemusatan di lokasi atau kawasan tertentu”. Jadi –jika kita merujuk pada dua sumber itu- Desa adalah sebuah lokasi dimana pengumpulan atau pemusatan pemukiman dilakukan di lokasi atau kawasan tertentu di bawah kecamatan, yang dipimpin oleh Kepala Desa.

Sebagai layaknya sebuah denotasi, ia dituntut untuk membuat deskripsi yang jernih. Sayangnya kejernihan tidak selalu berbanding lurus dengan romantisme. Itulah yang membuat deskripsi kata “desa” tersebut sama sekali tidak menyiratkan romantisme dari imajinasi tentang desa; gubug kecil ditengah hamparan padi tempat makan siang para pasangan petani, kepulan uap rebusan singkong dan jagung di warung-warung pada tiap pojok desa, surau yang saat dhuha hanya disinari oleh seruak matahari di sela dinding anyaman bambu, atau batang-batang bambu yang melicin setelah bertahun menjadi ujung pancuran di segarnya alir sungai. Romantisme ini, kemudian melahirkan konotasi tentang Desa. Konotasi inilah yang pada urutannya kemudian menjelma menjadi brand.

Sangat mudah didapatkan di kota-kota besar, bisnis cafe atau restaurant yang memakai kata “Desa” demi mengundang para pelanggannya yang diasumsikan memiliki imajinasi romantis tentang desa. Pramusaji yang berdandan seperti seorang istri yang mengantar makanan untuk suaminya di tengah sawah, piring dari tanah liat yang ditumpuki potongan ubi, tempat cuci tangan dari batang bambu adalah pemandangan yang disuguhkan untuk menggugah romantisme tentang desa.

Di beberapa tempat, bahkan hotel atau resort dibangun dari konsepsi romantis tentang desa, dimana kamar para tamunya dibangun sehalaman dengan rumah para petani yang pada pagi hari dapat langsung menyapa, bahkan mengajak para tamu untuk turut mencangkul di sawah yang berada di halaman hotel itu pula.

Jadi, dapatkah desa dijadikan daya tarik ekonomi? Mungkin. Yang sudah dapat dibuktikan adalah; kata “Desa” mampu menjadi daya tarik ekonomi.

Lalu, dapatkah popularitas kata “Desa” dalam konotasi seperti tersebut diatas diikuti dengan popularitas desa itu sendiri dalam konteks yang kurang-lebih sama, yaitu kemampuannya menghasilkan pertumbuhan ekonomi?

Well, itu pertanyaan serius yang akan membutuhkan jawaban yang serius pula. Tak hanya serius, jawabannya bahkan berpotensi untuk menjadi panjang. Sangat panjang.

Untungnya, kita sudah memiliki titik awal untuk memulai jawabannya.

Lihat Undang-undang Desa!, apa itu Desa?

Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Titik awal inilah dimulainya sebuah layanan yang akan memudahkan warga desa untuk mengakses layanan pertanahan.

Pada desa yang telah dipastikan memiliki jaringan internet, warganya diberikan akses untuk dapat mendaftarkan tanahnya secara online di komputernya sendiri. Pada 4 desa yang dijadikan lokasi awal dimulainya sistem Layanan Desa Online berbasis Teknologi Informasi yang diawali kunjungan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten CAHYONO, SH, MM  ke desa-desa tersebut  dengan memberikan motifasi dan konsep-konsep kemudahan yang diberikan dengan model Desa Online.

Sambutan hangat diberikan oleh para kepala desa, yang diwujudkan dengan menyiapkan perangkat IT  (komputer dan jaringan internet) di kantor desa untuk bisa mengakses layanan pertanahan secara Online 24 jam, yang selanjutnya para Kepala Desa dibuatkan User Name ke sistem Aplikasi loket.bpn.go.id, di berikan pencerahan dan pemahaman pada jajran terkait dengan Pemerintah Desa serta memberdayakan Pemuda Desa untuk bisa membaktikan ilmu yang dimmiki untuk membangun Desa nya, diberikan pelatihan dan pendampingan oleh Tim dan Support Sistem Online Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten,

Titik awal itu adalah “Desa Online”

Sebagaimana layaknya sebuah titik awal, layanan ini belum dapat dijadikan jawaban komprehensif dari pertanyaan serius di paragaf sebelumnya. Ia masih sebuah awal yang diciptakan dengan memadukan teknologi, budaya kerja dan optimasi sumberdaya di Kantor Pertanahan. Ia adalah rintisan yang telah disambut dengan senyuman para penerima manfaatnya, setidaknya di empat desa Teknologi terkini diterapkan. Ia adalah rintisan untuk terus mempertemukan warga desa dengan perlindungan hukum atas tanahnya, berikut membuka pintu-pintu ekonomi formal dari lembaga-lembaga resmi di seluruh penjuru negeri. Dan secara internal, ia adalah rintisan baru bagi kita semua untuk terus berkarya memajukan negeri. Demi terciptanya konotasi baru, bahwa pertanahan adalah kemajuan, demi terwujudnya cita-cita bersama, bahwa pertanahan adalah kesejahteraan. Akan sngat sesuai dan Signifikan dengan Program Nawacita Pemerintah saat ini.

INOVASI untuk menjadikan Institusi yang Kekinian

Kita harus kagum dengan para pencipta terobosan yang memberi dampak dan pengaruh yang besar bagi kehidupan. Kekaguman yang sama, mengarahkan saya pada buku “The Viking Manifesto” karya S.Strid & C. Andreasson. Selama ini saya hanya mengenali The Viking dari kisah-kisah barbar kehidupan mereka. Namun ternyata mereka sangat layak untuk menyandang gelar inovatif.

Perahu mereka yang sangat tersohor itu, apabila dilihat dari tampilannya bukanlah perahu yang luar biasa. Ukurannya kecil, tidak impressivebahkan cenderung culun. Tapi merupakan perahu tercepat baik di sungai atau di laut dan bisa dengan mudah diangkat oleh manusia, sehingga memudahkan mereka melakukan penyerangan untuk menduduki suatu negara. Jadi The Viking sama sekali bukan bangsa yang bersandar manja pada alam raya, tapi berpikir inovatif untuk beradaptasi dengan segala kondisi alam yang mungkin mereka temui dalam perjalanan menuju cita-cita.

Sekarangpun, Swedia, Denmark, Norwegia dan Iceland (yang kita ketahui nenek moyangnya adalah bangsa Viking) jika digabungkan total populasinya hanya sekitar 0,3% dari penduduk dunia, namun ternyata mampu menghasilkan 3% dari total ekspor di dunia. IKEA, Volvo, Lego hanyalah sedikit dari banyak sekali produk mereka yang dapat kita lihat di banyak showroom di Jakarta.

Mungkin dari bangsa Viking kita bisa belajar, bahwa kondisi yang sulit justru pemicu utama tumbuhnya inovasi. Tapi, adakah skala untuk mengukur seberapa sulitnya sebuah kondisi, sehingga inovasi bisa ditumbuhkan?

Bagaimana dengan birokrasi? Apakah birokrasi dapat menjadi obyek inovasi?

Walaupun birokrasi terkenal sangat kaku, dan sebagai abdi negara kewajiban utamanya adalah menjalankan aturan yang sudah ditetapkan namun bukan berarti sistem birokrasi harus miskin inovasi. Mungkin sebagai langkah awal kita bisa mulai dengan membuka diri dan peka terhadap kebutuhan lingkungan yang kemudian dilanjutkan dengan munculnya ide-ide dan mewujudkannya menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah.

Mengutip kembali buku S.Strid & C. Andreasson; “good ideas have a way of succeeding against all odds”. Ya, ide yang baik harus diperjuangkan sekuat tenaga. Di bagian lain buku itu, ditegaskan pula bahwa “overnight success takes years.” Sekuat tenaga, selama yang dibutuhkan, dan apapun itu sangat layak dilakukan dalam semangat “make things better”.

Dan di akhir buku itu, semua pembaca pasti akan berkesimpulan sama; Ayo berinovasi, let’s make things better!

Transformasi Menuju Institusi Pelayan Publik yang Kekinian

the water of a running stream is always fresh and wholesome

because it does not stop for a moment,

so life is ever fresh and new because it does not stand still,

but rapidly moves on.
Sepertinya kalimat itu menyarankan pembaruan yang terus-menerus untuk kehidupan yang lebih baik. Sebuah keselarasan dengan kutipan itu, dapat ditemukan di wikipedia yang menyatakan bahwa “budaya adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi”.

Dalam sejarah kebudayaan (sejauh yang saya tahu), akan sulit mencari pembanding revolusi yang digelorakan oleh the flower generation pada tahun 60-an; sebuah gerakan kebudayaan yang mampu mempengaruhi hampir seluruh pelosok dunia dalam banyak aspek. Tapi jika ia memang perlu pembanding, saya akan mengajukan komputer sebagai pembandingnya. Meski evolutif, tapi pengaruhnya mungkin jauh lebih luas daripada gerakan the flower generation. Pelan-pelan, komputer memproklamirkan terintegrasinya kehidupan manusia dengan mesin. Sejak proklamasi itu, komputer dengan segala kecanggihannya terus saja menawarkan kemudahan-kemudahan baru bagi peradaban dunia. Berlimpahnya informasi sebagaimana secara provokatif disajikan oleh google, yahoo, bing dan lainnya hanyalah salah satu contoh kuat; teknologi informasi memang sangat memudahkan. Evolusi ini, tanpa bisa ditolak juga melanda kehidupan sosial kita. Mark Zuckenberg bahkan bersaksi, bahwa di sebuah desa di jogja, rapat warga dilakukan dengan facebook buatannya.

Lalu, bagaimana dengan kehidupan profesional? Apakah evolusi ini juga melanda kehidupan profesional kita?

Seorang pintar bernama Andrew Feenberg sudah sempat meluangkan waktunya untuk mencermati, bahwa terdapat implikasi yang krusial dari perkembangan teknologi informasi, yaitu “CONSERVATION OF HIERARCHY” dan “SUBVERSIVE RATIONALISM”. Menurutnya, conservation of hierarchylebih memilih untuk melakukan konservasi atas hirarki yang berlaku (baik hirarki sosial maupun birokrasional) dimana teknologi informasi diimplementasikan. Pendekatan ini sering digunakan oleh organisasi untuk memperkuat mekanisme kontrol dalam dirinya. Mekanisme ini  meski sering dituding sebagai bentuk lain otoritarian- banyak dipakai karena potensi perusakan hirarkinya relatif rendah.

Di sisi lain, subversive rationalism meyakini bahwa IT harus membuka ruang perubahan bagi hirarki-hirarki yang ada menjadi lebih demokratis, dimana ruang tersebut bisa dipergunakan untuk pengembangan kapasitas pekerja sekaligus penyelarasan arah berpikir para pemikir.

Jika keduanya adalah pilihan, pada pilihan yang manakah kehidupan profesional kita mengintegrasikan diri? Conservation of Hierarchy atau Subversive Rationalism?

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berkembang sangat pesat. Meskipun secara personal hal ini sangat menyenangkan, tetapi bagi sebuah organisasi yang mengimplementasikan TIK, kepesatan ini juga menambah beberapa tingkat kompleksitas dalam manajemennya. Pilihan untuk terus mengikuti kepesatan perkembangan, adalah pilihan yang mengandung banyak konsekuensi.

Kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia, kemampuan perangkat keras beradaptasi dengan perkembangan, KKP web. Tentunya, semua personil di Kementerian Agraria dan Tata Ruang-Badan Pertanahan Nasional sudah familiar dengan KKP web; sebuah aplikasi untuk mengadministrasi pengelolaan pertanahan nasional. Dalam konteks pembaruan dan perkembangan, ia adalah transformasi spektakuler dari aplikasi sebelumnya; KKP Desktop.

Mengapa spektakuler..? Mungkin, karena keterlibatan semua unit untuk merancang bangunnya, dalam kontinuitas diskusi yang seringkali sengit pada 15 menit pertama dan kemudian menjadi inspiratif pada menit-menit berikutnya. Mungkin, karena hari-hari dimana keyboard komputer menjadi sangat halus oleh ketukan-ketukan jari yang sedemikian bersemangat menjadikan rancangan itu konkret, sampai huruf-hurufnya menghilang dari tuts. Mungkin juga, karena hari-hari implementasi yang penuh dinamika di ujung-ujung Indonesia sampai dengan di pusat-pusat peradabannya.

Yang sudah bukan kemungkinan lagi adalah fakta bahwa pengelolaan sumberdaya manusia sudah mencapai tingkat efisiensi yang lebih tinggi, karena pekerjaan-pekerjaan yang dulunya harus dilakukan oleh pegawai sudah banyak yang digantikan oleh mesin. Pengelolaan data, juga sudah berada pada tingkat efisiensi yang lebih tinggi, baik dari sisi akurasi maupun sisi durasi proses. Sejalan dengan pencapaian itu, inovasi-inovasi teknologi juga mendapatkan pondasi. Dan banyak lagi fakta-fakta lain yang saya kehilangan kata untuk menyatakannya.

Sistem KKP web ini lah yang menjadi awal keberanian untuk berinovasi dengan melahirkan terobosan berani mengimplementasikan Layanan Pertanahan Secara Online dimanapun, kapanpun, tanpa terhalang jarak, ruang dan waktu dipelosok desa sekalipun sepanjang terdapat koneksi internet (yang bukan merupakan hal baru kehadirannya saat ini) dan tercetuslah ide Layanan Pertanahan dengan konsep Desa Online

Dirangkum dan ditulis oleh M. Itsnaini

dari berbagai sumber tulisan pada portal utama Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional (www.bpn.go.id)

Comments

Baca Juga

IMG-20190805-WA0018

Yani Setiyadi, Terpilih Menjadi Ketua Umum Forum Komunikasi POKDARWIS JawaTengah

Klaten (salfamedia) – Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Kepemudaan Olah Raga dan Pariwisata Jawa Tengah ...