Home | salfaTravel | Badhar Giyanti, Upaya Spiritual Menyatukan Mataram yang Terkoyak
IMG_20200727_183012

Badhar Giyanti, Upaya Spiritual Menyatukan Mataram yang Terkoyak

Klaten (salfamedia) – Olah batin dan fantasi yang menghasilkan realitas baru penanda terbangunnya pijakan baru untuk memajukan kehidupan itulah yang kami percayai sebagai prosesi narasi tentang hidup yang berkebudayaan. Sebuah prosesi mengembalikan makna “Mataram nyawidji” dalam artian Nyawidji Rasa lan Nyawidji Tresna sedang kami jalani.

agundDalam pengembaraan batin kami menjangkau dan menembus jalinan lembaran lembaran kelambu masa lalu, kami menyaksikan setelah terjadinya Perjanjian Giyanti tahun 1755, rasa kebersamaan Mataram secara spiritual kebatinan retak dan terbelah.

“Jogja dan Solo tidak lagi nyawidji. Tidak lagi  menjadi kesatuan. Perjanjian Giyanti telah mengoyak kesatuan spiritual kebatinan Jogja dan Solo. Terkoyaknya kesatuan spiritual kebatinan ini bukan tidak terlacak secara wadag. Sungguh terlacak secara wadag, meski muncul secara sporadis dalam kontur yang tidak terstruktur,” jelas Agung Bakar.

Situasi ini lanjut Agung mengusik hati kami selaku anak negeri yang makan dan minum dari tanah pertiwi. Kebatinan kami sedih dan merintih. Jiwa kami gundah dan marah. Kami terpanggil untuk berbakti dengan mencanangkan BADHAR GIYANTI yang diprakasai pegiat Komunitas Peduli Klaten.

“Badhar Giyanti artinya memutus secara spiritual adanya perjanjian Giyanti,sehingga hubungan secara kebatinan antara Jogjakarta dan Surakarta yang terkoyak bisa menyatu, Mataram bisa nyawiji, menuju Realitas Baru dan Harapan Peradaban Baru,” kata Agung.

iwanBadhar Giyanti dengan cara laku spiritual berupa jalan kaki dari Makam Raja Jawa di Kota Gede Jogjakarta yang dilaksanakan oleh Iwan Purwoko sebagai titik awal, sedang Agung Bakar berangkat dari Kratom Kartosuro, yang secara bersama-sama bertemu di titik nol Klaten. Tepat pada hari Ulang Tahun Kabupaten Klaten yang ke 216 (Selasa 28 Juli 2020).

Dengan tekad tulus dan laku ikhlas kami ingin mengembalikan MAKNA NYAWIDJI sebagai penerus Bhumi Mataram dan Bhumi Nusantara. Perjalanan simbolik kami ini semata-mata upaya ritual guna menyatukan Mataram Jogja dan Solo secara spiritual.

“Dengan melakukan perjalanan kaki berangkat dari dua arah. Kami, Agung Bakar berangkat dari Kraton Kartasura di Surakarta dan Iwan Purwoko berangkat dari Makam Raja Jawa di Kota Gede Yogjakarta sebagai titik awal perjalanan, bertemu di Tugu Titik 0 Klaten sebagai penanda mengakhiri dan berakhirnya jiwa yang gelisah dan terpisah, menjadi satu, NYAWIDJI, bersatu lagi untuk keutuhan dan kemajuan negeri,” ungkap Iwan Purwoko.

Dengan Badhar Giyanti ini lanjut Iwan Purwoko,kami berharap semoga inisiasi kecil ini menjadi pintu masuk kesadaran baru bagi Rakyat Mataram yang satu, yang padu, yang maju dan terus maju, menyongsong harapan dan peradaban baru, masyarakat adil makmur gemah ripah loh jinawi.

Comments

Baca Juga

aryono

New Normal, Taman Wisata Candi Prambanan Aman Untuk Pengunjung

Klaten (salfamedia) – Siapa yang tak kenal Candi Prambanan, sebuah candi Hindu paling cantik di ...