Home | salfaTravel | Atit Novitasari SPd,Diperlukan Inovasi untuk Membangun Wisata Desa Glagahwangi
ATIT

Atit Novitasari SPd,Diperlukan Inovasi untuk Membangun Wisata Desa Glagahwangi

Klaten (salfamedia) – Keindahan panorama memang syarat mutlak bagi usaha jasa pariwisata alam. Namun, tidak sedikit obyek wisata alam yang sekilas tampak “biasa saja” mampu bertahan di tengah persaingan yang ketat berkat besarnya daya kreativitas, kekompakan, serta kegigihan para penggeraknya.

BALAI DESABegitu pula Desa Glagahwangi,Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, sebuah desa yang terletak di perbatasan tiga kecamatan. Antara lain Kecamatan Polanharjo bagian paling ujung selatan perbatasan dengan Kecamatan Ceper dan Kecamatan Karanganom. Ditunjang Desa Glagahwangi hanya berjarak kurang lebih 2 km dari jalan Jogja-Solo, apalagi disekitar Desa Glagahwangi banyak daerah Industri seperti Batur, Ceper, Kuncen dan lainnya, menjadikan Glagahwangi menjadi desa yang strategis untuk mengembangkan wisata.

Selain letaknya yang strategis Desa Glagahwangi juga menyimpan banyak potensi yang dapat dikembangkan menjadi daerah wisata. Potensi yang ada antara lain potensi wisata alam, wisata pertanian, wisata budaya dan tradisional, adanya embung yang lebih dikenal Waduk Jomblo, beberapa sendang dan tanah kas yang berbentuk seperti perbukitan. Semua itu jika nanti dikelola secara maksimal akan menjadikan wisata terpadu yang bisa mengangkat Desa Glagahwangi.

WADUK JOMLO“ Kami sedang melakukan kajian terhadap beberapa potensi desa yang bisa digarap untuk dijadikan tempat  wisata. Adanya banyak sendang seperti sendan Lanang dan sendang Wadon di kampung Dukuh, sendang sumberan, sendang Pekilen sendang Glagah. Serta adanya Waduk Pengairan di RW 6 yang sering disebut Waduk Jomblo, dan juga banyaknya produksi makan olahan yang menjadi sumber ekonomi masyarakat, yang bisa di kelola menjadi wisata kuliner,” jelas Atit Novitasari, SPd kepala Desa Glagahwangi.

Kades Atit  juga menjelaskan untuk potensi wisata kuliner, warga Desa Glagahwangi ada beberapa yang membuat makanan olahan, seperti rambak cakar dari kampung Sidomulyo, pengrajin jamur merang yang diolah berbagai masakan seperti jamur crispy. Bahkan ada masakan khas Glagahwangi yang sudah turun temurun yaitu Gempol dan Pleret, ini jenis masakan dari beras dan gandum, bahkan jamu  gendong yang diolah secara tradisional masih ada di Glagahwangi.Di Glagahwangi juga ada kuliner yang menjadi rujukan dari masyarakat luar desa bahkan kecamatan yaitu warung nasi goreng dan bakmi Mas Pri.

SENDANGBahkan Desa Glagahwangi juga dilenal dari sejak poro sepuh adalah sebuah desa yang masih melestarikan seni tradisional, seperti Group Ketoprak, karawitan, musik Gejog Lesung, musik tradisional Laras Madyo, musik pesisiran Islami dan seni musik hadroh, bahkan musik modern orjen tunggal.

“ Dari banyaknya potensi yang ada di Dsa Glagahwangi, kami sedang mencoba menggali dan untuk segera di garap bekerjasama dengan Bumdes dan masyarakat. Saat ini kami sedang merencanakan dalam waktu dekat untuk membangun wisata alam dan taman, ini kami konsentrasikan di areal tanah kas desa seluas kurang lebih 7ribu meter dan berbentuk seperti perbukitan sehingga tanah itu tidak bisa ditanami untuk pertanian,” jelas Atit.

Dipilihnya  wisata taman mengingat biayanya tidak terlalu tinggi, dan letaknya sangat strategis yaitu dipinggir jalan utama DPU Klaten  yang merupakan jalan akses penghubung antar kecamatan. Selain itu Glagahwangi diperlukan area hijau untuk tempat bermain anak dan juga sebagai tempat santai yang nyaman bagi masyarakat juga diharapkan bisa menjadi wisata foto selfi.

Juga akan segera di bangun wisata Sendang Lanang dan Sendang Wadon, yang kebetulan berdekatan dengan wisata Pohon Sengon Desa Kapungan. Jadi ini memberikan semangat untuk segera dibangun yang nanti tinggal memoles dan bekerjasama dengan Desa Kapungan menjadi wisata terpadu yaitu mandi dan ciblon di sendang Lanang maupun Sendang Wadon sekaligus bisa foto selfi di keindahan pohon sengon desa Kapungan.

PMJ Nisa 20180816_233853Salah seorang tokoh masyarakat yang juga mantan Direktur Bumdes Bangkit Bersama Desa Glagahwangi Muh Suryono saat ditemui di Kantor Desa Glagahwangi juga menyampaikan gagasannya yang sesuai dengan progran Kepala Desa Mbak Atit (panggilan akrab Kepala Desa) yaitu membangun wisata Pasar Kaget setiap minggu pagi di tanah lapangan sanping kampung Glagah Kidul dan di tanah SPL. Dimana pasar Kaget itu hanya dbuka setiap Minggu Pagi, sekalian sebagai ajang olahraga Car Free Day.

“Pasar kaget ini akan menampilkan wisata kuliner berupa jajanan khas Glagahwangi, yang nanti dibuat  stand-stand, diawali jam 6 pagi senam bersama masyarakat dengan dipandu oleh instruktur juga sajian live musik sebagai hiburan. Pengunjung juga bisa menikmati santai dan foto selfi di taman yang akan dibangun oleh Pemerintah Desa, dan juga akan disuguhi lomba kicau burung juga di tanah SPL akan dijadikan pasar mobil bekas sebagai tambahan transaksi jual beli mobil,” jelas Muh Suryono.

Selain pasar kaget Muh Suryono juga menyampaikan gagasan yang disampailan ke Kepala Desa untuk dibangun wisata Lalu Lintas bagi anak-anak Paud dan SD, bekerjasama dengan Polres Klaten. Juga sesekali mengadakan bazar yang menampilkan olahan makanan khas warga Desa Glagahwangi di sepanjang tepi jalan desa dekat kantor Desa, waktunya setiap bersamaan dengan peringatan hari besar  nasional atau hari besar keagamaan.

“Bahkan di Desa Glagahwangi ada potensi usaha di bidang media yaitu media wisata online salfamedia.com yang beralamat di dukuh Babrik, Glagahwangi, Polanharjo, yang khusus memberitakan potensi daerah di bidang wisata, budaya, ekonomi sebagai bentuk pengabdian membantu program publikasi dan promosi pemerintah Kabupaten Klaten. Bahkan Pak Bibit Waloyo waktu masih menjabat Gubenur Jawa Tengah berpesan agar alamat media jangan pindah, biarlah tetap di kampung dan menjadi kebanggan Desa Glagahwangi,” pungkas Muh Suryono yang juga pemilik media online salfamedia.com

 

 

 

Comments

Baca Juga

joko ponggok

GLC 19 Desa Ponggok , Menuju Ponggok Lestari 2025

Klaten (salfamedia) – Kita memang harus beralih ke wisata ramah lingkungan, tetapi sebelum itu kita ...