Home | salfaNews | Begini Langkah Kementan Tunjuk Desa Burikan Sebagai Pioner Produktivitas Kedelai Nasional
IMG-20220521-WA0063

Begini Langkah Kementan Tunjuk Desa Burikan Sebagai Pioner Produktivitas Kedelai Nasional

Klaten (salfamedia.com) — – Kementerian Pertanian RI melalui Direktorat Tanaman Pangan menggelar Gerakan Tanam Kedelai di Desa Burikan, Kecamatan Cawas, Klaten, Sabtu (21/5/2022). Kegiatan ini digelar dalam rangka pencanangan Tunas Bangkit Kedelai sebagai langkah peningkatan produktivitas kedelai nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Aneka Kacang dan Umbi Kementan RI, Yuris Tiyanto yang hadir mewakili Dirjen Tanaman Pangan Kementan RI, Suwandi, mengatakan gerakan tanam kedelai ini menggunakan lahan seluas 200 hektar di Desa Burikan dan bekerja sama dengan Fakultas Pertanian UGM sebagai pembina petani. Selain itu, pihaknya juga menggandeng pihak swasta untuk menjamin keterserapan serta kesusaian harga hasil panen kedelai petani lokal.

“Dan kontrak kerjanya itu bukan di belakang untuk pembelian hasil namun di depan jadi petani aman untuk menanam kedelai sehingga akan berkelanjutan dalam menanam kedelai,” ungkapnya.

Menurutnya Pemerintah menargetkan swasembada kedelai di tahun 2026 dengan areal tanam mencapai 900 ribu hektar. Yuris menyebut target tersebut dapat dicapai dengan dukungan petani yang turut serta menanam kedelai dari tahun ke tahun.

Sementara Klaten, ditunjuk sebagai daerah pioneer gerakan Tunas Bangkit Kedelai karena dinilai sebagai daerah potensial penghasil kedelai.

“Hari juga kami mencanangkan Tunas Bangkit Kedelai ini pertama kali di Indonesia membangkitkan kedelai melalui Klaten. Tunas-tunas bangkit kedelai ini akan mewakili kami untuk mengembangkan kedelai keseluruhan bangsa Indonesia. Sehingga diharapkan kedelai ini akan bangkit terus guna mengurangi impor kedelai yang selama 25 tahun kita melakukan impor kedelai,” paparnya.

Yuris menambahkan saat ini kebutuhan kedelai dalam negeri baru bisa dipenuhi sebanyak 30 persen. Melalui gerakan ini, diharapkan prosentasenya meningkat dan mengurangi ketergantungan impor.

Kendati demikian, kebangkitan kedelai nasional ini butuh dukungan seluru stakeholder ketahanan pangan, mulai dari Pemerintah Pusat, Provinsi, hingga semua pemerintah daerah.

Sementara, dalam kesempatan yang sama, Bupati Klaten, Sri Mulyani menyatakan Pemkab Klaten siap menyukseskan gerakan tersebut dan turut serta memantau perkembangan pilot project tersebut.

Menurutnya gerakan tanam kedelai tersebut selaras dengan program IP 400 yang dicanangkan sebelumnya oleh Kementan.

“Tidak ada benturan dengan IP 400. Kan IP 400 polanya tidak harus dengan padi namun tentunya bisa dengan padi, nanti bisa pakai kedelai, kacang tanah, kacang hijau. Selama empat kali tanam dalam setahun, tidak harus selalu padi, bisa berdampingan dengan tanaman pangan lainnya yang sesuai dengan potensi di daerah tersebut,” kata Bupati.

Menurutnya butuh komitmen bersama agar harga kedelai tetap stabil dan petani terus berminat untuk menanam kedelai. Selain itu, petani membutuhkan komitmen tidak ada impor kedelai agar keterserapan hasil panen tetap terjaga.

“Yang dibutuhkan petani adalah harga panen yang stabil dan terserap panennya. Ini butuh komitmen dan usaha bersama agar petani sejahtera dan ketahanan pangan terjaga,” papar Sri Mulyani.

Sementara itu Kepala Desa (Kades) Burikan Surata menyambut baik gerakan tanam kedelai yang dilakukan di desanya.

“Luasan tanaman kedeli di Desa Burikan ini seluas 80 hektar. Kita bersyukur dapat bantuan dari pemerintah. Karena kondisi tanah di desa ini adalah tadah hujan, sehingga kita mengalami kesulitan untuk mencoba tanaman lain. (tanaman) Kacang hijau, jagung, tidak maksimal. Sebab untuk perawatan dan air juga kurang,” ucapnya.

Comments

Baca Juga

InCollage_20220621_144213717

Anggota DPRD Jateng Kadarwati Dorong Perempuan Ambil Peran Dalam Politik

Klaten (salfamedia.com) —- Anggota DPRD Jawa Tengah Kadarwati mengungkapkan mendorong partisipasi perempuan dalam berbagai sektor ...