Home | salfaNews | Cara Generasi Milenial Menyambut Tahun Baru Dengan Parade Gamelan
IMG-20220102-WA0064

Cara Generasi Milenial Menyambut Tahun Baru Dengan Parade Gamelan

Ada yang berbeda dengan perayaan tahun baru 2022 di Pendapa Gasebu, Dusun Tegalcorocanan, Desa Solodiran, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Jika momen pergantian tahun biasanya identik dengan kembang api, maka perayaan tahun baru di sana dilakukan melalui media kesenian tradisional yang dikemas dalam acara Parade Gamelan (Pargam).

Pargam tersebut digelar oleh Forum Mahasiswa Pecinta Seni dan seniman se Indonesia (Formatasindo) pada Jumat (31/12/2021).

Peserta kali ini berasal dari sanggar ganesha, Omah gasebu, Omah gondhol, Kamasetra UNY, Kalimasada UIN sunan kalijaga,UKSJGS UGM,hima jawa UNY,BBKT UNS,KJ Undip,UIN saizu Purwokerto,UPN veteran Yogyakarta, UAD dan Stripam.

Pada parade gamelan 10 ini panitia memilih tagline gamelanku, gamelanmu, gamelan kita bersama, gamelan indonesia, gamelan dunia.

IMG-20220102-WA0061

Tak hanya sekadar penampilan kesenian gamelan, satu hal spesial dari acara ini adalah pesertanya yang sebagian besar adalah generasi millenial. Pada gelaran Parade Gamelan ke-10 ini, ada 13 kelompok karawitan yang mengikuti Pargam 10 tahun ini.

Ki Sukisno selaku pembina Formatasindo menuturkan parade gamelan sudah digelar untuk kali ke sepuluh. Kegiatan itu diadakan setiap malam pergantian tahun.

Ia mengatakan parade gamelan 10 tahun ini mengusung tema “Ndudhah Bothekan Mangsa Kependhem” yang bermakna mencoba menggali potensi yang sudah lama terpendam guna menjaga eksistensi gamelan jawa.

“Apalagi belum lama ini gamelan oleh UNESCO menetapkan sebagai warisan budaya tak benda.Harapan saya gamelan terus dilestarikan kekancah yang lebih luas sehingga tidak akan tergerus oleh arus globalisasi saat ini.Saya sangat gembira dengan semangat anak anak muda yang terlibat dalam Pargam ini,baik sebagai panitia maupun peserta,”ujarnya.

Dalam Pargam ini dikatakan Ki Sukisno berkolaborasi dengan Goprak yakni alat musik petani untuk mengusir burung yang dianggap sebagai simbol seni dengan ekonomi.

“Dengan Goprak petani bisa bermusik serta berkesenian bisa menggusah manuk sehingga bisa panen mendapatkan rejeki yang akhirnya bisa menggerakkan ekonomi para petani,”terangnya.

Sementara itu Seniman Klaten, Supriyadi Jimbling mengapresiasi Parade Gamelan 10 ini.

“Saya mengapresiasi Parade Gamelan 10 ini. Dan saya kagum dengan semangat mereka dalam melestarikan seni budaya, utamanya karawitan. Mereka tulus dan mau berkorban. Mereka mau urunan, demi cintanya pada gamelan dan seni karawitan. Sungguh luar biasa mereka,” ucapnya.

Comments

Baca Juga

IMG-20220118-WA0076

Razia 17 Hari di Klaten, Ratusan Kenalpot Brong Dimusnahkan

Klaten (salfamedia.com) —- Polres Klaten menindak 165 pemotor dalam operasi knalpot racing atau brong periode ...