Home | salfaNews | Cerita Perajin Gerabah Melikan Masih Bertahan Ditengah Himpitan Dampak Covid19
IMG_20210222_141907

Cerita Perajin Gerabah Melikan Masih Bertahan Ditengah Himpitan Dampak Covid19

KLATEN (salfamedia.com) —– Selama masa pandemi covid19 tahun ini, pemilik usaha rumahan mulai mengurangi jumlah produksinya. Hal ini dikarenakan daya beli masyarakat mulai berkurang. Hal ini juga dialami pengerajin gerabah di Desa Melikan Kecamatan Wedi, Klaten ini mengalami penurunan lebih dari 60 persen dan sempat berhenti produksi.

Namun setelah pemerintah memberlakukan new normal jumlah  produksi mulai mengalami  kenaikan.

Kades Melikan Purwanto menunjukkan hasil gerabah yang makin eksis sampai saat ini.
Kades Melikan Purwanto menunjukkan hasil gerabah yang makin eksis sampai saat ini.

 

Dikatakan Kepala Desa Melikan, Purwanto, ditengah pandemi Covid19 saat ini pengrajin gerabah di Desa Melikan kecamatan wedi Klaten jawa tengah masih merasakan dampaknya. Bahkan diawal pandemi Covid19 penurunan produksi lebih dari 60 persen.

“Namun setelah pemerintah melakukan new normal, sedikit demi sedikit jumlah produksi gerabah mulai meningkat,”kata Kades Melikan, Purwanto saat ditemui wartawan di balai desa Melikan.

Lanjutnya, meski ada peningkatkan produksi namun belum sesuai apa yang diharapkan oleh para penjual maupun  pemilik usaha rumahan atau pengrajin gerabah  yang berbahan dengan tanah liat tersebut.

Sementara itu perajin gerabah Rusmanto mengatakan yang biasanya mendapat kunjungan dari para peziarah di sunan pandanaran di kecamatan Bayat Klaten serta para pelajar. Namun selama masa pandemi Covid19 ini turun dratis bahkan tidak ada satu pun rombongan wisatawan yang berkunjung atau membelinya.

Agar produksinya laku dipasaran, para pengrajin gerabah ini mengaku memasarkan produksinya melalui sistem online. Setelah menjalani sistem online penghasilan para pengerajin gerabah justru semakin meningkat dibanding dengan hari hari biasanya.

“selama menggunakan sistem online dalam seminggu Rp 3,5 juta hingga Rp 4 juta rupiah dari penjualan berbagai jenis,”katanya.

Sementara produk yang ditawarkan mulai dari tempat sambal tempat minum celengan atau tabungan berbentuk ayam, harimau, pot bunga, kendi, gelas dan masih banyak yang lainnya. harga dibanderol bervariasi mulai dari 3,500 hingga 400 ribu rupiah.
sampai saat ini pembeli mulai dari warga Jogjakarta, Semarang, Magelang hingga Surabaya.

Comments

Baca Juga

IMG-20210304-WA0059

Alfian Kecelakaan Saat PKL, Butuh Bantuan Dua Tangan Robotik

Klaten (salfamedia.com) —– Kisah pilu dialami seorang pelajar  SMK di Klaten Jawa Tengah dimana ia ...